Perbedaan Warisan, Wasiat dan Hibah

Perbedaan Warisan, Wasiat dan Hibah

Warisan merupakan harta peninggalan yang dimiliki oleh orang yang telah meninggal dunia (pewaris) kepada orang yang masih hidup yang disebut sebagai ahli waris dengan bagian – bagian tertentu berdasarkan ketentuan hukum waris (Hukum Perdata, Hukum Islam dan atau Hukum Adat).

Pewarisan sebagaimana dimaksud harus mempunyai 3 hal utama, yaitu:

  • Pewaris yakni orang yang telah meninggal dunia atau orang yang diduga meninggal dunia dan mewariskan harta warisannya.
  • Ahli waris yakni orang yang berhak atas harta warisan. Ahli waris haruslah masih hidup.
  • Harta warisan yakni keseluruhan harta benda beserta hak dan kewajiban pewaris, baik utang maupun piutang.

Wasiat menurut Pasal 875 KUHPerdata, adalah akta yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal dunia dan yang olehnya dapat dicabut kembali. Pemberian wasiat diberikan pada saat pemberi wasiat masih hidup, tetapi pelaksanaannya dilakukan pada saat pemberi wasiat meninggal dunia.

Pasal 874 KUHPerdata menyatakan bahwa segala harta peninggalan seseorang yang meninggal dunia, adalah kepunyaan para ahli warisnya menurut undang-undang, sejauh mengenai hal itu dia belum mengadakan ketetapan yang sah. Ketetapan yang sah tersebut ialah surat wasiat. Artinya, jika ada surat wasiat yang sah, surat wasiat harus dijalankan oleh para ahli waris. Sebaliknya, apabila tidak ada surat wasiat, semua harta peninggalan pewaris adalah milik ahli waris.

Namun demikian, baik hukum perdata maupun hukum Islam menentukan bahwa harta yang diberikan sebagai wasiat harus memenuhi ketentuan legitime portie, yakni tidak melebihi sepertiga dari seluruh nilai harta warisan, dimana merupakan hak mutlak dari pewaris yang tidak dapat disimpangi.  Wasiat dibuat saat pemilik harta masih hidup dan harta diberikan saat ia telah meninggal dunia.

Sedangkan Hibah atau hadiah merupakan harta yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain, baik itu ahli waris atau bukan, dimana harta tersebut diberikan pada saat pemilik harta masih hidup. Konsep legitime portie juga berlaku pada harta yang diberikan sebagai hibah. Kemudian, hibah kepada ahli waris juga dapat diperhitungkan sebagai warisan.

Apabila Anda membutuhkan konsultasi hukum, Anda dapat mengubungi kami melalui email: lassa@lassaadvocate.com

Spread the love

Leave a Reply

Close Menu